Cerpen

Rabu, 27 November 2019 - 14:49 WIB

1 minggu yang lalu

logo

Kawasan pantai Labuan Bajo (Foto: Gabriel Mahal)

Kawasan pantai Labuan Bajo (Foto: Gabriel Mahal)

Jadilah Seperti Langit Biru

Oleh: Gabriel Mahal*

Waktu di SMA kelas II, SMA Negeri Ruteng, saya pernah ikut lomba menulis puisi tingkat SMA se-propinsi NTT. Itu dalam rangka peringatan Hari Pahlawan. Jadi, thema puisinya terkait Hari Pahlawan itu. Puisi dikumpulkan di sekolah dan diseleksi tim guru. Yang lolos seleksi dikirim ke Kupang.

Ternyata hasil seleksi di sekolah saya SMA Negeri Ruteng, puisi saya tidak lolos. Dikembalikan ke saya. Ada dua puisi yang lolos. Semuanya puisi yang ditulis anak Kelas III SMA Jurusan Bahasa. Saya sendiri di jurusan IPS.

Tetapi beberapa hari kemudian, puisi saya diminta kembali. Rupanya, ada persyaratan. Setiap sekolah harus mengirim 3 puisi. Jadi, puisi saya yang ditingkat sekolah sudah tidak lolos seleksi itu diminta lagi hanya untuk memenuhi syarat itu. Tiga puisi itu dikirim ke Kupang untuk diperlombakan.

Apa yang terjadi kemudian? Puisi saya yang tidak lolos seleksi di sekolah itu mendapat Juara III Lomba Penulisan Puisi Tingkat SMA se-Propinsi NTT. Dua puisi lainnya tidak dapat juara. Saya dapat hadiah Rp.30.000,- diserahkan saat upacara bendera. Tentu saya senang bukan main. Tak sangka. Tak terduga.

Usai sekolah, buru-buru pulang rumah. Sudah tak sabar beritahu bapa mama puisi saya dapat juara III. Saya tidak pernah cerita bahwa saya ikut lomba penulisan puisi itu.

Tetapi mendekati rumah, saya lihat ada oto ambulans tepat di pinggir jalan depan rumah. Banyak keluarga berkumpul depan rumah. Saya lari. Dan kaget lihat nenek Lius, ibu dari bapa saya, sudah terbaring di dalam oto ambulans itu. Nenek yang paling dekat dengan kami semua dan sudah bertahun-tahun tinggal di rumah.

“Nenek minta pulang ke Laci,” kata bapa. Laci itu kampung nenek saya. Kampung kecil dekat Kampung Cumbi. Saya ngerti artinya itu. Nenek mau meninggal di kampungnya. Nenek saya ini sudah lama tidak bisa melihat. Jadi tunanetra. Entah apa sebabnya. Tapi saat saya memeluk dia dan menangis, sepertinya dia sudah bisa melihat. Dia perhatikan wajah saya sambil bilang, “e… kali ho’o hau, nana” (e, ternyata ini kamu) sambil membelai wajah saya dengan tangannya yang renta. Butir-butir air matanya menetes turun di kerutan wajahnya yang tua.

Kegembiraan mendapat juara III dalam lomba penulisan puisi itu tenggelam dalam kesedihan akan kepergian nenek saya itu. Dengan linangan air mata saya melepas pergikan nenek kesayangan saya itu pulang ke kampungnya, menjemput sang kematian. Beberapa hari kemudian nenek saya itu pulang ke Kampung Keabadian di pangkuan ibu saya yang selama ini setia dan dengan penuh kasih merawatnya.

Peristiwa itu beri saya pelajaran hidup untuk tidak “over excited” – puas dan gembira berlebihan ketika meraih suatu sukses, karena kita tidak pernah sangka di baliknya ada kesedihan yang menunggu. Juga beri pelajaran bahwa hidup itu seperti alunan musik yang kadang penuh nada kejutan, penuh nada kegembiraan, tetapi juga ada nada-nada kesedihan, yang keseluruhannya bikin musik itu jadi suatu keindahan.

Orang bijak memberi nasehat, terus belajar untuk menjadi langit biru yang melihat dan menikmati silih bergantinya musim, datang dan perginya awan, siang dan malam, matahari bulan dan bintang-bintang, dan selalu berganti, selalu berubah, tetapi Anda tetap sebagai langit biru.

Artikel ini telah dibaca 155 kali

Baca Lainnya
  • 10 November 2019 - 04:27 WIB

    Menyendiri
x