Cerpen

Kamis, 7 November 2019 - 16:45 WIB

4 minggu yang lalu

logo

Ilustrasi

Ilustrasi

Aku dan Penceramah Bayangan

Waktu menunjukkan pukul 00:56, relung malam terus berputar, hening, hanya ada binatang malam yang risaunya ku dengar. Mata ku engan tuk terpejam menikmati malam yang di atur Tuhan untuk para makluk ciptaanya yang unik ini berpangku melepas lelah setelah seharian beraktifitas. Namun mata ini untuk berkedip sekalipun enggak. Hanya ada kerisauan yang menyelinap dan terus mendekap dalam bola mata kilau seperti tak ingin pergi bersama malam.

Terdengar sebuah bisikan “ada apa dengan pikiran mu hingga merasuki bola matamu yang engan untuk memejam ?”

Aku pun terdiam mendengar bisikan itu, lalu hatiku bergerak perlahan tanganku merabah touch leptopku dan mulai menumpahkan segala apa yang ada dalam pikiranku dan menjawab bisikan itu.

Tentang sebuah perjuangan yang bertitle mahasiswa, jam berlalu begitu cepat hingga tak sadar hari-hari di lewati begitu cepat. Kuliah ku abaikan, tugas kuliah tak di respon. Kembali memoriku mem-feedback apa yang sudah ku perbuat terhadap waktu.

Waktu yang menjadi kesempatanku untuk ku lakukan yaitu kuliah, kerja tugas dan lain sebagainya. Sudah tak ada lagi penyesalan, sudah tak ada lagi kata menyesal karena itu hanya membuang waktu mu saja. Bisikan itu lagi kembali terngiang setelah mendegar jawaban dari aku.

Entah ini adalah tantangan dari sebuah perjuangan menempuh pendidikan tinggi. Apa lagi memegang title semester akhir. Yang dengan beban dan risauan terhadap gema suara orangtua yang terus bertanya kapan ujian. Kapan habis kuliahnya. Iya jawaban ku terhadap gema itu. Aku akan selesai tepat waktu seperti yang di harapkan yaitu tiga setengah tahun.

Bisikan itu kembali muncul degan bertanya lagi “apa ia kamu menyelsaikan kuliah kamu dengan tiga setengah tahun ? “ ya, jawabku. Bagaimana mungkin kamu menyelsaikan kuliahnya dengan bermalas-malasan kuliah, bermalas-malasan kerja tugas kuliah “sambil menelan ludah, Aku hanya terdiam mendengar ceramah dari bisikan itu.

Dengan amarah yang muncul entah mungkin karena sebuah penyesalah atau karena ceramah yang tak tau siapa dan apa tujuanya berceramah, aku bertanya siapa sih kamu ? !!! repot amat sih ceramahin aku ? apa untungnya buat kamu ? amarahpun terus merasuki pikiranku hingga akhirnya aku terdiam. Karena memarahi bisikan yang tak jelas asal-usulnya.

Lalu dia berbisik lagi hei…. Kamu marah sama aku ?…. ooeee kamu tidak mau bersyukur aku ceramahin kamu. Biar kamu sadar dengan perbuatanmu. Ingat dosenmu setiap hari kuliah, malah kamunya enga ada. Kamuya kemana, aku pun terdiam sambil menahan amarah. Perlu kamu resapi baik-baik kamu itu yang bayar dosen untuk kamu menimbah ilmu dari mereka. Jadi semestinya kamu itu rajin-rajin kuliah karena tidak sia-sia usaha orangtua ngasih uang buat bayar SKSnya kamu sama biaya hidup kamu yang kataya kamu datang kuliah. Amarah aku pun semakin memuncak.

“Hemmm… ini bisikan kalau berdiri di depan saya nich… mungkin sudah saya jadikan tempe,.. bisikan itu pun melanjutkan ceramahnya. Oeee…. Bisikan itu pun nadanya rasa kaya membentak, kenapa bengong baru nyadar yaaa… loh harus ingat juga, masih banyak orang di luar sana yang pengen kuliah namun tak punya kesempatan seperti kamu ? sepestinya loh to harus bersyukur bukan malah menyia-nyiain kesempatan. Air mataku tak dapat ku tau pun membasahi pipihku, Seperti pujangga yang di tinggal kekasihnya.

Bisikan itu terus berceramah dari detik ini, aku katakan besok, pergi dan temui dosen mata kuliah yang selama ini jam kuliah kamu dengan dia (dosen ) kamu tinggalkan. Stop kata menyesal pada butiran air mata yang meleh pada pipihmu karena jawabnya hanya frasa “ percuma “ waktu sudah lewat yang kamu lakukan adalah berjuang bagaimanapun caranya agar dosen memberikan keringanan padamu hingga memberimu waktu untuk menyelsaikan tugas dan memberimu apa yang bisa menggantikan jam kuliah selama ini kamu tinggalkan.

Siap !!! dengan nada lantang yang sedikit serak-serak akibat meluapkan penyesalan lewat menanggis, Terima kasih bisikan walaupun kamu tak terlihat namun sudah mampu memberikan penyadaran buat aku. Sekali lagi trima kasih penceramah bayangan doakan aku agar dosennya hatinya luluh.

Maumere, kamis 7 November 2019

Timotius Nomor
Mahasiswa program studi ilmu komunikasi

Artikel ini telah dibaca 125 kali

Baca Lainnya
  • 10 November 2019 - 04:27 WIB

    Menyendiri
x