Puisi

Senin, 28 Oktober 2019 - 18:21 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Ilustrasi

Ilustrasi

Antologi Puisi Anjani Podangsa

LIMA BAIT

Dari sekin banyak waktu, aku memilih padamu
Dan Tuhan membiarkan itu!
Kau lebih dari sekedar lebih unntuk sebuah namamu
Padamu yang sederhana aku merengkuh

Suatu waktu aku menyaksikaan mereka berdatangan
Termasuk aku!
Suatu waktu juga, aku melihat mereka satu persatu pergi!
Tapi, tidak termasuk aku!

Biarkan saja!
Setidaknya kita perna jatuh cinta Bersama
Walau pun pada akhirnya kau tak mau luka Bersama juga!
Pada mulanya aku perna menulis pada bait yang berbeda selain hari ini!
Itu adalah tintaku pertama untuk waktumu yang kedua!

Mungkin padamu aku belum selesai!
Karena aku percaya, kau tak perna selesai untuk yang sudah pergi sekali pun!
Kau adalah tak biasa!
Tak biasa untuk catatan setiaap orang yang pergi itu!

Saat waktu menandai satu hari, Saya pastikan itu adalah waktumu
Padamu waktuku setara!
Padamu semuanya akan kembali
Padamu aku menulis lima bait!

Semua yang berakhir adalah kematian! Tidak untukmu, setiap yang mau berakhir adalah Kelahiran
Selamat menua untukmu

Jogja, 25 Oktober 2019

Cah Wedok Nentang

Bicara soal anarkis kau Di anggap Aseparatis!
Bicara soal radikal kau akan menjadi musuh!
Bicara perlawanan juga biasa biasa saja
Tentang bumi manusia memang begitu begitu saja Bahwa hidup memang pencarian pada diri sendiri yang tak terselesaikan
Disetiap perjalanan akan menuntut perubahan, akan diminta memikirkan, hingga memutuskan.
Menjadi sadar adalah: bebas!
Ah, sebentar lagi mungkin bait-bait ini akan terbang tinggi!
Di jeruji maksudnya, karena memang begitu demokrasi ala tuanku
Yang abadi hanyalah waktu untuk melawan!
Tuan pramoedya? Kau benar adanya, bahwa: bicara soal kebebasan tidak perna asik di bumi
Manusia ini!

Jogja, 31 Mei 2019

*Penulis merupakan anggota Kelompok Studi Tentang Desa, tinggal di Yogyakarta

Artikel ini telah dibaca 131 kali

Baca Lainnya
x